Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan (Bagian II) – Muhyiiddiin Ibnu ‘Arabi

Sahabats…

Pada tulisan kali ini, Syaikh Al-Akbar menasihati kita tentang kehalalan dan kethayyiban makanan serta rizki yang Allah amanahkan kepada kita, serta bagaimana seharusnya kita memperlakukan amanah tersebut dalam hidup kita. Hal ini penting sebagai bekal dari perjalanan spiritual kita. Marilah kita renungkan dan amalkan…

DUA

Pastikan kehalalan dan kethoyyiban serta haqq semua hal kesenangan yang engkau pergunakan di dunia ini, termasuk makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulutmu, karena merupakan pondasi dari ad-diin yang sedang engkau bangun.Ibnu Arabi-1

Untuk menaikkan tingkat spiritualmu, dalam jejak-jejak pengajaran para nabi (assalaamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh), engkau harus menjadi cahaya – cahaya dalam pelbagai kebajikan, cahaya dalam perhatianmu terhadap perbaikan dunia. Tanda-tanda-Nya yang mampu engkau baca akan membimbingmu kepada orang-orang yang akan engkau ringankan bebannya, dan akan melindungimu dari menjadi beban bagi orang lain. Jangan pernah menjadi benalu maupun membiarkan orang lain untuk membawa beban-bebanmu. Ingatlah, jangan pernah menerima harta benda dan hadiah baik untuk dirimu sendiri, keluargamu, saudaramu, teman-temanmu, yang berasal dari orang-orang yang hatinya mati, tenggelam dalam tidur panjangnya.
Baca lebih lanjut

Iklan

Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan bagian I – Muhyiiddiin Ibnu ‘Arabi ra.

Salam Sahabats…
Berikut ini kami persembahkan salah satu nasihat Syaikh Ibnu Araby bagi para penempuh jalan suluk. Tulisan ini kami peroleh dari copy Notes FB sahabat Dwi Afriyanti A. Semoga Allah merahmati Syaikh Ibnu Arabi, mbak Dwi Afriyanti dan kita semua…
Selamat merenungkan…

Ibnu Arabi
SATU

Beriman kepada Allah Al-A’laa (Sang Maha Tinggi), dan tiada satu makhluk pun baik tampak maupun ghaib yang menyerupainya. Allah Sang Maha Sempurna, tiada kekurangan apa pun; Beriman kepada para utusan-Nya dan melaksanakan pesan-pesan kebenaran yang mereka bawa baik yang memiliki tafsir yang jelas maupun samar; Beriman kepada al-quran, aturan-aturan, dan keadilan Allah. Pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh para orang suci dan ayat-ayat al-quran merupakan cara seorang pejalan untuk memahami Keindahan atribut (Nama, shifat, af’al) Allah.

Baca lebih lanjut

Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan (Bagian III) – Muhyiiddiin Ibnu ‘Arabi

Sahabats…

Merenungkan nasihat Syeikh Al-Islam Muhyiddin Ibnu Araby memang membuat kita menjadi hati-hati dalam menjalani suluk. Berikut kami sajikan kelanjutan dari bekal yang pertama dan kedua. Marilah kita tafakkuri bersama…

TIGA

Ibnu Arabi-1Terpenting, dari apa yang engkau butuhkan adalah akhlak mulia, karakter dan perilaku yang tepat benar; kau harus mengidentifikasi bagian dirimu yang buruk dan menghilangkan keburukan itu. Hubunganmu dengan siapapun harus berdasarkan akhlak mulia – yang disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tipe kebutuhan tiap orang.

Barangsiapa yang menolak satu poin dari akhlak mulia, itu berarti dia masih memiliki karakter buruk. Setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan lainnya. Level tiap orang berbeda. Karakter dan perilaku baik juga memiliki level yang berbeda. Perilaku bukanlah sebuah bentuk. Bukan juga dijalankan dalam cara yang sama pada setiap keadaan kepada setiap orang. Berperilakulah sesuai situasi dan kondisi, dan sesuai tipe kebutuhan orang dalam hubunganmu dengan seseorang atau kelompok. Indikator/ aturan perilaku baik itu adalah jika perilaku itu membawa kepada jalan keselamatan, kebenaran, kenyamanan, kedamaian, ketenangan, memberikan perlindungan, tiada menyakitkan lahir bathin dan tiada menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain, bagi diri pribadi, dan sebisa mungkin bagi banyak orang, dimana dilakukan semata mengharapkan keridhoan Allah.

Baca lebih lanjut

Buku KAMUS SHALAT

Beberapa hari lagi penerbit ARIFA akan meluncurkan KAMUS SHALAT yang menyuguhkan lebih dari 250 macam shalat. Semula buku ini akan diterbitkan pada bulan Ramadhan, namun karena beberapa pertimbangan, baru diluncurkan pada bulan ini.

Pengantar Penulis

“Tidak ada garis pemisah antara iman dan kekufuran kecuali meninggalkan shalat.” (Hadis)

Shalat secara intrinsik adalah sebuah paket wisata menuju Allah. “Shalat adalah mi’raj Mukmin,” sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis. Di dalamnya terdapat sejumlah aturan protokoler dan simbol-simbol audial seperti bacaan al-Fatihah dan surah, serta simbol visual, seperti rukuk dan sujud.

Meski shalat adalah kewajiban paling utama, namun yang lebih diutamakan adalah menegakkannya. Allah memerintahkan kita untuk menegakkan shalat, tidak hanya melaksanakannya. Menegakkan shalat (iqamah ash-shalah) berarti melaksanakan shalat dengan kesadaran akan dimensi eksoteris (shalat lahiriah) dan dimensi esoterisnya (shalat batiniah). Shalat yang ditegakkan dengan dimensi lahir dan batin niscaya melahirkan sebuah energi positif yang mampu menciptakan perubahan individual dan sosial. Allah menjanjikan bahwa shalat yang paripurna mampu melahirkan sebuah perubahan sosial; “Sesungguhnya shalat mencegah dari yang kotor dan keji“ “Sesungguhnya manusia diciptakan gelisah: jika keburukan menimpanya, ia banyak keluh kesah; dan jika kebaikan menimpanya, ia banyak mencegah (dari sedekah). Kecuali mereka yang shalat…”
Baca lebih lanjut

Mengurai Makna Sholat Wustho: Dari Tafsir Ahkam Hingga Tafsir Sufistik

Oleh: Asnawi Ihsan

Shalat JamaahManusia kadang hanya fokus pada ibadah ruhani dan menafikan ibadah lahiriah. Sibuk memikirkan nilai filosofis dari satu ritual dan ketika makna hakikat telah dicapai bisa jadi praktik ritualnya sendiri ditinggalkan. Atau sebagian manusia sibuk dengan ibadah-ibadah seremonial meskipun hanya dilakukan sebagai formalitas belaka karena telah tereduksi secara substansi.

Bila ingin disederhanakan, kita sering menemukan seseorang yang meninggalkan syar’i karena sudah merasa ada di level hakikat atau sedang melakukan pencarian hakikat kebenaran. “Buat apa sholat, yang penting kan dzikir, eling, muhasabah, selalu ingat Tuhan dan selalu berusaha berbuat baik sesama manusia dan semesta” pernyataan yang mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Atau kadang kita menemukan fenomena yang berbeda, “sudahlah jangan kau pikirkan tentang Tuhan, tentang hakikat kebenaran, akal kita ini sangat terbatas untuk menjangkaunya, jalankan saja semua perintah agama, jalankan dengan iman, kalau kau punya iman yang kuat, semuanya akan kau jalani dengan ikhlas. Kalau kau masih mempertanyakannya, imanmu masih tipis” ungkapan demikan pun kadang masih kita temukan keluar dari orang yang dekat dengan kita.
Baca lebih lanjut

Pengertian Rahasia Shalat dan Pemahaman Umumnya

Betapa banyak pelaku shalat (mushalli) tak mendapat apa-apa dari shalatnya

selain menyaksikan mihrab, kelelahan dan keletihan

Ada pula yang sekedar memperoleh manfaat munajat

Meski ia telah melaksanakan shalat fardhu, dan berjamaah

Betapa tidak ! Sementara Rahasia Ilahi menjadi imamnya meski ia sebagai makmum

Maka sungguh ia telah mencapai puncaknya

Baca lebih lanjut