Sahabats…
Pada tulisan kali ini, Syaikh Al-Akbar menasihati kita tentang kehalalan dan kethayyiban makanan serta rizki yang Allah amanahkan kepada kita, serta bagaimana seharusnya kita memperlakukan amanah tersebut dalam hidup kita. Hal ini penting sebagai bekal dari perjalanan spiritual kita. Marilah kita renungkan dan amalkan…
DUA
Pastikan kehalalan dan kethoyyiban serta haqq semua hal kesenangan yang engkau pergunakan di dunia ini, termasuk makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulutmu, karena merupakan pondasi dari ad-diin yang sedang engkau bangun.
Untuk menaikkan tingkat spiritualmu, dalam jejak-jejak pengajaran para nabi (assalaamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh), engkau harus menjadi cahaya – cahaya dalam pelbagai kebajikan, cahaya dalam perhatianmu terhadap perbaikan dunia. Tanda-tanda-Nya yang mampu engkau baca akan membimbingmu kepada orang-orang yang akan engkau ringankan bebannya, dan akan melindungimu dari menjadi beban bagi orang lain. Jangan pernah menjadi benalu maupun membiarkan orang lain untuk membawa beban-bebanmu. Ingatlah, jangan pernah menerima harta benda dan hadiah baik untuk dirimu sendiri, keluargamu, saudaramu, teman-temanmu, yang berasal dari orang-orang yang hatinya mati, tenggelam dalam tidur panjangnya.
Lanjut membaca

Terpenting, dari apa yang engkau butuhkan adalah akhlak mulia, karakter dan perilaku yang tepat benar; kau harus mengidentifikasi bagian dirimu yang buruk dan menghilangkan keburukan itu. Hubunganmu dengan siapapun harus berdasarkan akhlak mulia – yang disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tipe kebutuhan tiap orang.
Beberapa hari lagi penerbit ARIFA akan meluncurkan KAMUS SHALAT yang menyuguhkan lebih dari 250 macam shalat. Semula buku ini akan diterbitkan pada bulan Ramadhan, namun karena beberapa pertimbangan, baru diluncurkan pada bulan ini.
Manusia kadang hanya fokus pada ibadah ruhani dan menafikan ibadah lahiriah. Sibuk memikirkan nilai filosofis dari satu ritual dan ketika makna hakikat telah dicapai bisa jadi praktik ritualnya sendiri ditinggalkan. Atau sebagian manusia sibuk dengan ibadah-ibadah seremonial meskipun hanya dilakukan sebagai formalitas belaka karena telah tereduksi secara substansi.
Betapa banyak pelaku shalat (mushalli) tak mendapat apa-apa dari shalatnya